MR. LUCK

Terkadang malu menceritakannya sebab hanya sebuah kisah
lama
yang usang, tentang bagaimana seseorang yang ingin kembali pada masa-masa indah yang mana
menurutnya saat ini semua terlihat suram.
Padahal menurut pendapat orang lain hal
ini merupakan sesuatu hal yang luar biasa karena sudah sangat mencukupi dari
segi apapun. Mobil mewah, motor gede, rumah mewa, dan juga istri serta anak-anak
yang cantik dan ganteng. Namun menurut orang ini, hal tersebut adalah sesuatu
yang sangat sulit untuk dijalani bagai berjalan diatas api yang dilapasi
pecahan kaca yang tajam. Benar-benar pedih, memilukan, menyakitkan entah apa
lagi hal yang bisa diungkapkan. Aku tak tau apa alasan orang ini sehingga
begitu aneh pemikiriannya.
Jika kau seorang yang normal maka kau pasti berpikir kalau orang
ini gila, entah mengapa aku pikir dia benar-benar orang yang sangat kejam untuk
beberapa hal. Namun jika menurutmu ini berdampak positif maka ambilah dan
pelajarilah kandungan baik yang tersimat, jika tidak buanglah ke tempat
yang sangat jauh sekalipun.
Baiklah kisah ini akan kumulai simaklah dengan seksama kisah
bahagia dan menyenangkan menurut beberapa orang yang telah membacanya.
SI PERMEN GULA
Awal Maret 2010, Pagi itu aku
menyusururi sebuah anak tangga yang masih terbuat dari tanah yang dilapisi
koral-koral sungai yang tertata rapi, seperti susunan warna pelangi yang ketika
kau melihatnya akan merasa heran dan bertanya kenapa bisa. Tibalah aku ditempat
yang aku tuju, terlihat sesosok wanita paru bayah yang sedang membereskan
barang dagangannya. Iya benar aku berada di kantin sekolah SMA N 1 Pulau
Pinang, Kecamatan Pulau Pinang, Kabupaten Lahat, provinsi Sumatera Selatan.
Suasana kantin yang masih sangat sepi, memudahkanku untuk mencuci
perutku. Kau tahu, di kantin sekolah hanya menjual ubi goreng dan juga talas
rebus dan beberapa permen saja. Lebih lagi kantin ini Cuma satu-satunya yang
ada disini, jadi jika jam istirahat akan sangat membeludak dipenuhi oleh para
siswa yang ingin mengisi kantong perutnya.
“bu talas rebusnya saya ambil tiga ya?”
“ya jim, cukanya di dalam toples warna kuning, ibu belum sempat
untuk memindahkannya”
“Waww” sontak aku
terdiam ketika aku melihat suatu hal yang langkah , dan kemudian ia menoleh
kearahku dengan tajam dan sedikit aneh serta disusul dengan senyum sinis. Benar-benar tajam yang mana seakan-akan kulit kepala tertusuk jarum.
“lah kok waw jim, ada apa emang?” sahut bu kantin
“gaaaaaa ada apa-apa bu”
Kulitnya putih, dengan perawakan sedang, memiliki mata yang sipit
dan juga mempunyai senyum yang lebar. Kupastikan jika melihatnya pastilah kau
akan sedikit mengeluarkan air liur dan menelannya kembali. Betapa tidak melihat
merpati menari di permukaan laut dan mengeluarkan aroma bunga melati yang tiada
ujung harumnya.
Seorang malaikat
yang menjelma menjadi seorang wanita
cantik yang berjalan menuju kerahku.
“Ini berapa buk?” Tanyanya kepada ibu kantin
“kalo
beli 1 Rp.50, kalo beli 3 harganya jadi Rp.100 dek, emang kamu mau beli
berapa?”
“10
bu?”
“emmm”
terlihat bu kantin kebingungan, dengan tangannya yang seperti memainkan kecapi.
“ini
bu uangnya, ” gadis itu memberikan Rp.350 kepada bu kantin, tapi bu kantin
tidak memperdulikan hal itu, ia masih terus menghitung-hitung.
“ok, pas. Makasih ya de” tiba-tiba berkata dengan cukup kencang
setelah ia mengambil uangnya.
“hahaha, makasih bu” gadis itu tertawa cukup keras.
Tawanya
yang begitu lepas tadi, aku pikir dia bukanlah orang yang cuek amat. Aku
berusaha menguatkan diriku untuk menyapanya tanpa memperdulikan apa yang ia
pikirkan terhadapku.
“etss… sebentar Hallo…..!!!, anak baru ya?”
“iya ka” jawabnya singkat.
“ohh” balasku. “kenapa ya?” jawabnya
lagi
“gapapa ko, ehehehe” kupikir benar-benar garing, ohh tuhan.
“duluan ya” dengan muka yang benar-benar bingung sambil pergi
gadis itu melambaikan tangannya.
Siapa sangka hari ini aku benar-benar telah melihat bidadari yang
sangat luar biasa indahnya, aku tak peduli ia datang dari surga atau neraka.
Namun begitu melihatnya aku merasakan kesejukan yang luar biasa, pokoknya
benar-benar cantik. Wanita yang sangat cantik, dari jutaan orang yang pernah
aku temui, sungguh akan indah hidupku jika aku bisa melihatnya lagi, dan
apabila aku bisa berkenalan dengannya.
“hahaha, oh tuhan, aku lupa menanyakan namanya” aku tertawa
sendiri sambil memikirkan hal itu.
“kenapa jim?” tanya bu kantin. “ga
papa bu” jawabku
“sini
ibu dandani?” teriak bu kantin
“maksud
ibu?” dengan sangat bingung aku melihat bu kantin.
“ya
kalau kamu modelnya seperti itu, siapapun wanitanya ga bakalan bisa kamu ajak
berkenalan, jadi anak lelaki itu harus pemberani loh!!!, masa sebegitu lembeknya”.
Dengan nada merendahkan.
“jangan gitu dong bu, saya adalah anak lelaki paling berani sesekolah ini. Sekarang ibu pikirkan lagi, siapa orang yang telah
memperbaiki meja sekolah yang berlubang?”
“kamu” sahut bu kantin
“siapa yang telah membantu ibu menemukan kembali mangkok warna
merah yang dicuri oleh kera-kera liar?”
“jimi” jawabnya lagi
“itu masih belum bu, siapa yang telah membantu membersihkan
saluran air sekolah pada saat hujan deras dan para siswa lain sedang belajar?
Siapa yang telah menjadi siwa dengan nilai tertinggi selama sekolah ini
didirikan? Siapa yang menulis undangan buat para orang tua siswa pada hari
peringatan 17 agustus tahun lalu? Dan itu hanya beberapa rekor saja yang sangat
banyak untukku sebutkan. Hahahah dan alangkah baiknya ibu tarik kembali
perkataan tadi” dengan nada cepat dan pose memastikan menatap bu kantin.
“jimi, jimi, jimi dan jimi, jawaban untuk semua yang kau ucapkan
tadi. tapi, dengar!!!. Kamu membenarkan meja dikarenakan kamu sendiri yang
merusaknya. Dan untuk masalah mangkok warna merah itu, bukannya kamu sendiri
yang makan di dekat pohon besar itu kemudian kamu meninggalkannya dan akhirnya
para kera-kera liar itu mengambilnya.
“tapi
kan bu? Saluran air? Sahutku.
“hemmm,
kalau masalah membersihkan saluran air kan wajar, kan cuma kalian berdua siswa
laki-laki disekolah ini.
“tapi???”
“masalah
apa? Masalah nilai tertinggi itu. Hahahah, itu karena pak kamto ngomongnya
didepan orang tuamu dan semua orang juga tahu kalo kamu merupakan siswa yang
memilki nilai terendah. Nah untuk masalah menulis undangan, kan pak kamto lagi
sakit, toh sewajarnya kamu sebagai siwa melakukan hal tersebut karena para guru
yang lain sedang udangan ke kantor bupati, dan jika mengandalkan pak agus guru
olahraga yang cuma bisa mengajarkan senam cacing kepanasan itu, mana ngertinya
dia akan hal itu, hahaha. Jimi-jimi”
“ahahaha,
tapi itu semua rekorku bu, sampai kapanpun tak akan ada yang bisa menyainginya”
“ya
deh, terserah kamu anak mudah” jawab bu kantin singkat.
“nah
gitu dong orang tua, opsssss, hehehe maaf bu” sahutku lagi
“dasar
bocah” muka sangarnya keluar ketika biasanya mode itu digunakan saat menagih
hutang para siswa.
“maaf
bu kantin yang paling cantik sesekolah, walaupun cuma ibu sendiri yang
berjualan disini, maafkanlah anak mudah yang masih sangat mudah dan pemberani
ini. Janganlah karena hal seperti itu ibu marah pada saya, karena bagi saya
ibulah yang cuma mengerti selera saya” dengan nada pelan dan sedikit
memohon.
“iya
iya jim” sambil memaksakan senyumnya.
Beberapa menit di kemudian, aku menuju kelas untuk melanjutkan
proses belajarku, yang mana pelajaran hari ini adalah pelajaran favoritku
“Fisika”. Memang benar nilaiku tidak bagus. Tapi untuk pelajaran yang 1 ini,
sangat mudah untukku mencernahnya dan pastinya aku selalu menjadi yang terbaik
untuk pelajaran ini.
Bagiku pelajaran ini adalah fiksi dan nyata. Mungkin kalian tak
mengerti apa pandanganku terhadap pelajaran ini. Karena sejauh pandanganku
hanya ilmu ini yang sangat masuk akal untuk didalami. Teori serta prakteknya
benar-benar bisa dibuktikan sejauh ini. Dan yang mengajarkan pelajaran ini
adalah bu yarnita, seorang lulusan SMA. Mungkin sedikit aneh tapi itulah kenyataannya. Karena hanya bu yarnita
sebutan yang biasa dipanggil untuknya, guru yang lulusan SMA disekolahku dan
guru yang lainnya hanya lulusan smp. Artinya pendidikan disini memang masih
terbatas, namun inilah pendidikan yang saat ini sedang aku tempuh.
“beridiri,
berisalam” teriakku kencang
“selamat
pagi bu” sahut yang lain serempak.
“selamat
pagi anak-anak, udah sarapan?” dengan ciri khas senyum yang sangat manis bagai
menikmati gula merah di sore hari. lesung pipit yang tergambar di wajahnya
begitu jelas memancarkan keindahan ciftaan tuhan. Dan ciri khas lainnya selalu
membawa anaknya yang berumur sekitar 3tahun. Lucu, cerewet ditambah lagi sering
bikir keonaran dengan menyobek buku-buku temanku kemudian ia memakannya.
Ditambah lagi, jika ia sedang menangis suasana kelas akan sangat
ramai dan hal ini akan memecah belah konsentrasi. Namun itulah anak-anak belum
mengerti apapun, kami sangat memaklumi itu semua.
“udah bu” sahut si
intan. “belum bu” dewi menambahkan sambil menundukkan mukanya.
“Kenapa dewi belum sarapan?” tanya bu yarnita.
“belum nafsu bu” jawab intan.
“belum nafsu?, dengar intan termasuk yang lain juga. Kalo kita ga
sarapan, kita ga dapat asupan energy, kalo ga dapet asupan energy, gimana otak
kita mau menyerap ilmu? Ingat ya, mulai hari ini dan seterusnya, sebelum
berangkat ke sekolah ataupun berpergian ke suatu tempat usahakan sarapan
sekalipun itu hanya talas rebus. Mengerti dewi?” sahut bu dewi.
“dengar
tu dew, sarapan makanya” sahut intan sambil tertawa kecil.
“iya
bu intan” jawab dewi dengan muka merahnya.
“hahahhaha”
sontak semuanya tertawa.
“ok-ok
tenang, yang terpenting semuanya sudah mengerti. Oh iya materi kita yang
terakhir adalah tentang atom, dan juga PR kalian segera dikumpulkan” bu yarnita
sambil duduk ke mejanya.
“ting-ting” bunyi lonceng yang artinya jam istirahat. 3 jam telah
beralalu tidak terasa jam pelajaran sudah berakhir.
“ya
sudah, PR nya jangan lupa dikerjakan ya”
“ya
bu” jawab anak-anak.
Kemudian bu yarnita meninggalkan ruangan kelas, dan terlihat
beberapa anak-anak sudah keluar, ada yang ke kantin, ada yang ke perpustakaan.
Sekarang suasana kelas sangat hening, dan aku masih duduk dikursi mengerjakan
PR fisika tadi.
“jim,
jim” teriak seseorang di luar kelas.
“iya
sebentar, wan” jawabku
“buruan,
ayo cari angin” sahutnya.
Irwan
namanya, dia adalah sahabat sekaligus tetanggaku, dan ia masih satu tingkat dibawahku, walaupun begitu dia tetap orang yang asik. Bukannya
tidak ada teman, tapi ya karena hanya kami berdua siswa laki-laki disekolahku
itulah yang membuat kami dekat.
Dalam keseharian aku selalu banyak melakukan aktifitas, karena
saat pulang sekolah aku langsung pergi ke kebun kopi milik kami. walaupun hanya
mengantar nasi buat ibuku, kadang juga membantu ibu untuk membersihkan rumput
liar yang berada di perkebunan kami, dan jika musim panen aku dan saudariku
akan membantu ibu untuk memetik kopi.
Kalian
tahu tidak, kopi dipanen satu tahun sekali, dan ketika itu berlangsung kami
akan menyambutnya dengan suka duka. Suka ialah ketika hasil jerih payah kami
menghasilkan memuaskan dan dukanya adalah harga kopi sendiri sangatlah murah.
Seberapa banyak kopi yang kami hasilkan tak akan sebanding dengan keringat yang
tercucur. Namun demikian kami sangat bersyukur atas rahmat tuhan yang selalu
memberikan kesehatan untuk kami.
Sedangkan Ayah mencari sampingan dengan menjajakan sepatu dan
peralatan rumah tangga lainnya di pasar kaget. Kenapa kusebut pasar kaget
karena pasar ini hanya 2 hari dalam 1 minggu. Pasar ini bukan sebuah ruko
ataupun semacamnya, karena pasar ini selalu berkeliling dari tempat satu ke
tempat lainnya, kadang antar kecamatan dan kadang juga hanya di desa, kami
menyebutnya kalangan. Kalangan ini hanya berlapiskan tikar atau terpal dalam
menjajakan barang-barang.
Kami memang bukan orang yang beradah ataupun mapan, untuk
kebutuhan saja orang tuaku hanya berprinsif andai cukup hari ini alhamdulillah.
Walaupun demikian aku sangat bersyukur telah terlahir dari keluarga ini dan
tentunya aku sangat bahagia memilki kedua orang tua yang sangat mendukung dalam
segi apapun jika itu terbaik untukku.
10 maret 2010, jam 11:20 ada
pengumuman dari kepala sekolah bahwa try out sekolah akan dimulai dan kami
dituntut untuk lebih giat lagi untuk belajar. Karena setelah
try out maka ujian sekolah dan ujian nasional akan menyusul dan itu merupakan
hal yang sangat penting untuk memberikan usaha terbaik.
Sekolah kami ini terletak di sekitar perbukitan dan kalian tahu
sekolahku ini merupakan sekolah baru, terlebih lagi untuk fasilitas masih
sangat minim. Jangan mengharapkan jika kalian memimpikan ada komputer. Akses
listrik saja masih sulit, kalian hanya perlu bersabar jika kalian berada di
tempat ini.
Namun rasa syukur selalu kami ucapkan untuk sekolah ini, karena 4
tahun lalu kebanyakan anak selesai ke jenjang sekolah menengah pertama dan tak
bisa melanjutkan ke sekolah lagi. Hal ini disebakan masih mahalnya biaya
sekolah dan juga para orang tua berpikir bahwa bersekolah tak ada
artinya, toh bakalan jadi petani juga. Ditambah lagi Akses yang lumayan jauh
dan disana kita juga harus membayar mahal untuk biaya kos dan lainnya.
Pada umumnya warga yang hidup dari hasil bertani sangat jarang anak-anak mereka
bersekolah sampai
ke tingkat atas karena tak mampu
membiayainya, dan hanya anak-anak kepala desa serta kepala adat yang bisa
bersekolah. Tapi kini semua telah berganti dan semua orang bisa bersekolah dan
para orang tua tak khawatir dan bingung lagi memikirkan nasib anak-anaknya.
Walaupun bangunan di sekolah ini terbilang minim yang mana hanya
sekitar 5 ruangan saja. Tapi semua orang sangat bersemangat untuk berekolah.
Dengan kelas yang penuh sesak yang jarak meja dan kursi berdempetan tak membuat
kami sedikitpun resah.
Jangan ditanya tentang proses belajar mengajar, kalian pasti
pernah menjadi seorang pelajar. Kadang enak kadang juga ga enak begitulah,
tetapi yang aku salutkan disini adalah ketika ada satu orang yang mengalami
masalah maka kami semua akan saling membantu, artinya sifat gotong royong
disini masih sangat besar, dan ikatan keluarga masih merupakan sebuah peraturan
dasar untuk bermasyarakat.
Seminggu sejak hari pertama bertemu dengan gadis itu, aku memang
belum pernah sekalipun menyapa dia lagi, dan hanya bisa melihatnya dari
kejauhan. Walaupun begitu, aku masih ingat bagaimana wajah dan senyumnya ketika
aku menyapa dia pertama kali, yang sangat tergambar jelas di memoriku.
“oh
tuhan semoga aku bisa menyapanya! Aminn…” itulah do’a yang kuselipkan
selain do’a agar hari ini dimudahkan ilmu yang masuk ke otakku.
Ketika aku membayangkan hal itu terasa sejuklah pikiranku damailah
hatiku walaupun pertemuan itu begitu cepat. Aku selalu berharap dapat berbicara
dengannya lagi. Untuk itulah setiap pagi aku selalu berharap dapat memberanikan
diri untuk menyapanya lagi.
7 tahun lalu merupakan pengalaman terpahit dalam hidup, aku diajak
pergi oleh seorang teman kesebuah tempat yang sama sekali belum pernah aku
menginjak kaki disana. disana kau melihat rumput itu berwarna kuning, gunung
bagaikan tempat sampah terbesar, laut layaknya air bah sisa para tahanan yang
dipakai berulang. teman ku itu mengatakan bahwa inilah tempat terburuk bagi
umat manusia. dan aku masih bingung dan tidak percaya akan hal itu. kemudian
aku langsung menanyakan kepada salah satu penghuni tempat itu. suaranya lantang
meneriakkan bahwa iniilah NERAKA. dengan bingung ku membacakan tasbih dan
tahrim mendengar hal itu. Setelah itu aku sadar bahwa tiada nera
BERSAMBUNG...................!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar