Arsip Blog

Jumat, 14 Oktober 2016

Penyambung Gelap

MR. LUCK

Terkadang malu menceritakannya sebab hanya sebuah kisah lama yang usang, tentang bagaimana seseorang yang ingin kembali pada masa-masa indah yang mana menurutnya saat ini semua terlihat suram. Padahal menurut pendapat orang lain hal ini merupakan sesuatu hal yang luar biasa karena sudah sangat mencukupi dari segi apapun. Mobil mewah, motor gede, rumah mewa, dan juga istri serta anak-anak yang cantik dan ganteng. Namun menurut orang ini, hal tersebut adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dijalani bagai berjalan diatas api yang dilapasi pecahan kaca yang tajam. Benar-benar pedih, memilukan, menyakitkan entah apa lagi hal yang bisa diungkapkan. Aku tak tau apa alasan orang ini sehingga begitu aneh pemikiriannya.
Jika kau seorang yang normal maka kau pasti berpikir kalau orang ini gila, entah mengapa aku pikir dia benar-benar orang yang sangat kejam untuk beberapa hal. Namun jika menurutmu ini berdampak positif maka ambilah dan pelajarilah kandungan baik yang tersimat,  jika tidak buanglah ke tempat yang sangat jauh sekalipun.
Baiklah kisah ini akan kumulai simaklah dengan seksama kisah bahagia dan menyenangkan menurut beberapa orang yang telah membacanya.



SI PERMEN GULA

Awal Maret 2010, Pagi itu aku menyusururi sebuah anak tangga yang masih terbuat dari tanah yang dilapisi koral-koral sungai yang tertata rapi, seperti susunan warna pelangi yang ketika kau melihatnya akan merasa heran dan bertanya kenapa bisa. Tibalah aku ditempat yang aku tuju, terlihat sesosok wanita paru bayah yang sedang membereskan barang dagangannya. Iya benar aku berada di kantin sekolah SMA N 1 Pulau Pinang, Kecamatan Pulau Pinang, Kabupaten Lahat, provinsi Sumatera Selatan.
Suasana kantin yang masih sangat sepi, memudahkanku untuk mencuci perutku. Kau tahu, di kantin sekolah hanya menjual ubi goreng dan juga talas rebus dan beberapa permen saja. Lebih lagi kantin ini Cuma satu-satunya yang ada disini, jadi jika jam istirahat akan sangat membeludak dipenuhi oleh para siswa yang ingin mengisi kantong perutnya.
“bu talas rebusnya saya ambil tiga ya?”
“ya jim, cukanya di dalam toples warna kuning, ibu belum sempat untuk memindahkannya”
     “Waww” sontak aku terdiam ketika aku melihat suatu hal yang langkah , dan kemudian ia menoleh kearahku dengan tajam dan sedikit aneh serta disusul dengan senyum sinis. Benar-benar tajam yang mana seakan-akan kulit kepala tertusuk jarum.
“lah kok waw jim, ada apa emang?” sahut bu kantin
“gaaaaaa ada apa-apa bu”

Kulitnya putih, dengan perawakan sedang, memiliki mata yang sipit dan juga mempunyai senyum yang lebar. Kupastikan jika melihatnya pastilah kau akan sedikit mengeluarkan air liur dan menelannya kembali. Betapa tidak melihat merpati menari di permukaan laut dan mengeluarkan aroma bunga melati yang tiada ujung harumnya.
 Seorang malaikat yang menjelma menjadi seorang wanita cantik yang berjalan menuju kerahku.
 “Ini berapa buk?” Tanyanya kepada ibu kantin
“kalo beli 1 Rp.50, kalo beli 3 harganya jadi Rp.100 dek, emang kamu mau beli berapa?”
“10 bu?”
“emmm” terlihat bu kantin kebingungan, dengan tangannya yang seperti memainkan kecapi.
“ini bu uangnya, ” gadis itu memberikan Rp.350 kepada bu kantin, tapi bu kantin tidak memperdulikan hal itu, ia masih terus menghitung-hitung.
“ok, pas. Makasih ya de” tiba-tiba berkata dengan cukup kencang setelah ia mengambil uangnya.
“hahaha, makasih bu” gadis itu tertawa cukup keras.
Tawanya yang begitu lepas tadi, aku pikir dia bukanlah orang yang cuek amat. Aku berusaha menguatkan diriku untuk menyapanya tanpa memperdulikan apa yang ia pikirkan terhadapku.
“etss… sebentar Hallo…..!!!, anak baru ya?”
“iya ka” jawabnya singkat.
“ohh” balasku. “kenapa ya?” jawabnya lagi
“gapapa ko, ehehehe” kupikir benar-benar garing, ohh tuhan.
“duluan ya” dengan muka yang benar-benar bingung sambil pergi gadis itu melambaikan tangannya.

Siapa sangka hari ini aku benar-benar telah melihat bidadari yang sangat luar biasa indahnya, aku tak peduli ia datang dari surga atau neraka. Namun begitu melihatnya aku merasakan kesejukan yang luar biasa, pokoknya benar-benar cantik. Wanita yang sangat cantik, dari jutaan orang yang pernah aku temui, sungguh akan indah hidupku jika aku bisa melihatnya lagi, dan apabila aku bisa berkenalan dengannya. 

“hahaha, oh tuhan, aku lupa menanyakan namanya” aku tertawa sendiri sambil memikirkan hal itu.
“kenapa jim?” tanya bu kantin. “ga papa bu” jawabku
“sini ibu dandani?” teriak bu kantin
“maksud ibu?” dengan sangat bingung aku melihat bu kantin.
“ya kalau kamu modelnya seperti itu, siapapun wanitanya ga bakalan bisa kamu ajak berkenalan, jadi anak lelaki itu harus pemberani loh!!!, masa sebegitu lembeknya”. Dengan nada merendahkan.
“jangan gitu dong bu, saya adalah anak lelaki paling berani sesekolah ini. Sekarang ibu pikirkan lagi, siapa orang yang telah memperbaiki meja sekolah yang berlubang?”
“kamu” sahut bu kantin
“siapa yang telah membantu ibu menemukan kembali mangkok warna merah yang dicuri oleh kera-kera liar?”
“jimi” jawabnya lagi
“itu masih belum bu, siapa yang telah membantu membersihkan saluran air sekolah pada saat hujan deras dan para siswa lain sedang belajar? Siapa yang telah menjadi siwa dengan nilai tertinggi selama sekolah ini didirikan? Siapa yang menulis undangan buat para orang tua siswa pada hari peringatan 17 agustus tahun lalu? Dan itu hanya beberapa rekor saja yang sangat banyak untukku sebutkan. Hahahah dan alangkah baiknya ibu tarik kembali perkataan tadi” dengan nada cepat dan pose memastikan menatap bu kantin.

“jimi, jimi, jimi dan jimi, jawaban untuk semua yang kau ucapkan tadi. tapi, dengar!!!. Kamu membenarkan meja dikarenakan kamu sendiri yang merusaknya. Dan untuk masalah mangkok warna merah itu, bukannya kamu sendiri yang makan di dekat pohon besar itu kemudian kamu meninggalkannya dan akhirnya para kera-kera liar itu mengambilnya.
“tapi kan bu? Saluran air? Sahutku.
“hemmm, kalau masalah membersihkan saluran air kan wajar, kan cuma kalian berdua siswa laki-laki disekolah ini.
“tapi???”
 “masalah apa? Masalah nilai tertinggi itu. Hahahah, itu karena pak kamto ngomongnya didepan orang tuamu dan semua orang juga tahu kalo kamu merupakan siswa yang memilki nilai terendah. Nah untuk masalah menulis undangan, kan pak kamto lagi sakit, toh sewajarnya kamu sebagai siwa melakukan hal tersebut karena para guru yang lain sedang udangan ke kantor bupati, dan jika mengandalkan pak agus guru olahraga yang cuma bisa mengajarkan senam cacing kepanasan itu, mana ngertinya dia akan hal itu, hahaha. Jimi-jimi”
“ahahaha, tapi itu semua rekorku bu, sampai kapanpun tak akan ada yang bisa menyainginya”
“ya deh, terserah kamu anak mudah” jawab bu kantin singkat.
“nah gitu dong orang tua, opsssss, hehehe maaf bu” sahutku lagi
“dasar bocah” muka sangarnya keluar ketika biasanya mode itu digunakan saat menagih hutang para siswa.
“maaf bu kantin yang paling cantik sesekolah, walaupun cuma ibu sendiri yang berjualan disini, maafkanlah anak mudah yang masih sangat mudah dan pemberani ini. Janganlah karena hal seperti itu ibu marah pada saya, karena bagi saya ibulah yang cuma mengerti selera saya”  dengan nada pelan dan sedikit memohon.
“iya iya jim” sambil memaksakan senyumnya.

Beberapa menit di kemudian, aku menuju kelas untuk melanjutkan proses belajarku, yang mana pelajaran hari ini adalah pelajaran favoritku “Fisika”. Memang benar nilaiku tidak bagus. Tapi untuk pelajaran yang 1 ini, sangat mudah untukku mencernahnya dan pastinya aku selalu menjadi yang terbaik untuk pelajaran ini.
Bagiku pelajaran ini adalah fiksi dan nyata. Mungkin kalian tak mengerti apa pandanganku terhadap pelajaran ini. Karena sejauh pandanganku hanya ilmu ini yang sangat masuk akal untuk didalami. Teori serta prakteknya benar-benar bisa dibuktikan sejauh ini. Dan yang mengajarkan pelajaran ini adalah bu yarnita, seorang lulusan SMA. Mungkin sedikit aneh tapi itulah kenyataannya. Karena hanya bu yarnita sebutan yang biasa dipanggil untuknya, guru yang lulusan SMA disekolahku dan guru yang lainnya hanya lulusan smp. Artinya pendidikan disini memang masih terbatas, namun inilah pendidikan yang saat ini sedang aku tempuh.

“beridiri, berisalam” teriakku kencang
“selamat pagi bu” sahut yang lain serempak.

“selamat pagi anak-anak, udah sarapan?” dengan ciri khas senyum yang sangat manis bagai menikmati gula merah di sore hari. lesung pipit yang tergambar di wajahnya begitu jelas memancarkan keindahan ciftaan tuhan. Dan ciri khas lainnya selalu membawa anaknya yang berumur sekitar 3tahun. Lucu, cerewet ditambah lagi sering bikir keonaran dengan menyobek buku-buku temanku kemudian ia memakannya.
Ditambah lagi, jika ia sedang menangis suasana kelas akan sangat ramai dan hal ini akan memecah belah konsentrasi. Namun itulah anak-anak belum mengerti apapun, kami sangat memaklumi itu semua.
     “udah bu” sahut si intan. “belum bu” dewi menambahkan sambil menundukkan mukanya.
“Kenapa dewi belum sarapan?” tanya bu yarnita.
“belum nafsu bu” jawab intan.
“belum nafsu?, dengar intan termasuk yang lain juga. Kalo kita ga sarapan, kita ga dapat asupan energy, kalo ga dapet asupan energy, gimana otak kita mau menyerap ilmu? Ingat ya, mulai hari ini dan seterusnya, sebelum berangkat ke sekolah ataupun berpergian ke suatu tempat usahakan sarapan sekalipun itu  hanya talas rebus. Mengerti dewi?” sahut bu dewi.
“dengar tu dew, sarapan makanya” sahut intan sambil tertawa kecil.
“iya bu intan” jawab dewi dengan muka merahnya.
“hahahhaha” sontak semuanya tertawa.
“ok-ok tenang, yang terpenting semuanya sudah mengerti. Oh iya materi kita yang terakhir adalah tentang atom, dan juga PR kalian segera dikumpulkan” bu yarnita sambil duduk ke mejanya.

“ting-ting” bunyi lonceng yang artinya jam istirahat. 3 jam telah beralalu tidak terasa jam pelajaran sudah berakhir.
“ya sudah,  PR nya jangan lupa dikerjakan ya”
“ya bu” jawab anak-anak.

Kemudian bu yarnita meninggalkan ruangan kelas, dan terlihat beberapa anak-anak sudah keluar, ada yang ke kantin, ada yang ke perpustakaan. Sekarang suasana kelas sangat hening, dan aku masih duduk dikursi mengerjakan PR fisika tadi.
“jim, jim” teriak seseorang di luar kelas.
“iya sebentar, wan” jawabku
“buruan, ayo cari angin” sahutnya.
Irwan namanya, dia adalah sahabat sekaligus tetanggaku, dan ia masih satu tingkat dibawahku, walaupun begitu dia tetap orang yang asik. Bukannya tidak ada teman, tapi ya karena hanya kami berdua siswa laki-laki disekolahku itulah yang membuat kami dekat.
Dalam keseharian aku selalu banyak melakukan aktifitas, karena saat pulang sekolah aku langsung pergi ke kebun kopi milik kami. walaupun hanya mengantar nasi buat ibuku, kadang juga membantu ibu untuk membersihkan rumput liar yang berada di perkebunan kami, dan jika musim panen aku dan saudariku akan membantu ibu untuk memetik kopi.
Kalian tahu tidak, kopi dipanen satu tahun sekali, dan ketika itu berlangsung kami akan menyambutnya dengan suka duka. Suka ialah ketika hasil jerih payah kami menghasilkan memuaskan dan dukanya adalah harga kopi sendiri sangatlah murah. Seberapa banyak kopi yang kami hasilkan tak akan sebanding dengan keringat yang tercucur. Namun demikian kami sangat bersyukur atas rahmat tuhan yang selalu memberikan kesehatan untuk kami.
Sedangkan Ayah mencari sampingan dengan menjajakan sepatu dan peralatan rumah tangga lainnya di pasar kaget. Kenapa kusebut pasar kaget karena pasar ini hanya 2 hari dalam 1 minggu. Pasar ini bukan sebuah ruko ataupun semacamnya, karena pasar ini selalu berkeliling dari tempat satu ke tempat lainnya, kadang antar kecamatan dan kadang juga hanya di desa, kami menyebutnya kalangan. Kalangan ini hanya berlapiskan tikar atau terpal dalam menjajakan barang-barang.
Kami memang bukan orang yang beradah ataupun mapan, untuk kebutuhan saja orang tuaku hanya berprinsif andai cukup hari ini alhamdulillah. Walaupun demikian aku sangat bersyukur telah terlahir dari keluarga ini dan tentunya aku sangat bahagia memilki kedua orang tua yang sangat mendukung dalam segi apapun jika itu terbaik untukku.
10 maret 2010, jam 11:20 ada pengumuman dari kepala sekolah bahwa try out sekolah akan dimulai dan kami dituntut untuk lebih giat lagi untuk belajar. Karena setelah try out maka ujian sekolah dan ujian nasional akan menyusul dan itu merupakan hal yang sangat penting untuk memberikan usaha terbaik.

Sekolah kami ini terletak di sekitar perbukitan dan kalian tahu sekolahku ini merupakan sekolah baru, terlebih lagi untuk fasilitas masih sangat minim. Jangan mengharapkan jika kalian memimpikan ada komputer. Akses listrik saja masih sulit, kalian hanya perlu bersabar jika kalian berada di tempat ini.
Namun rasa syukur selalu kami ucapkan untuk sekolah ini, karena 4 tahun lalu kebanyakan anak selesai ke jenjang sekolah menengah pertama dan tak bisa melanjutkan ke sekolah lagi. Hal ini disebakan masih mahalnya biaya sekolah  dan juga para orang tua berpikir bahwa bersekolah tak ada artinya, toh bakalan jadi petani juga. Ditambah lagi Akses yang lumayan jauh dan disana kita juga harus membayar mahal untuk biaya kos dan lainnya.
Pada umumnya warga yang hidup dari hasil bertani sangat jarang anak-anak mereka bersekolah sampai ke tingkat atas karena tak mampu membiayainya, dan hanya anak-anak kepala desa serta kepala adat yang bisa bersekolah. Tapi kini semua telah berganti dan semua orang bisa bersekolah dan para orang tua tak khawatir dan bingung lagi memikirkan nasib anak-anaknya.
Walaupun bangunan di sekolah ini terbilang minim yang mana hanya sekitar 5 ruangan saja. Tapi semua orang sangat bersemangat untuk berekolah. Dengan kelas yang penuh sesak yang jarak meja dan kursi berdempetan tak membuat kami sedikitpun resah.
Jangan ditanya tentang proses belajar mengajar, kalian pasti pernah menjadi seorang pelajar. Kadang enak kadang juga ga enak begitulah, tetapi yang aku salutkan disini adalah ketika ada satu orang yang mengalami masalah maka kami semua akan saling membantu, artinya sifat gotong royong disini masih sangat besar, dan ikatan keluarga masih merupakan sebuah peraturan dasar untuk bermasyarakat.

Seminggu sejak hari pertama bertemu dengan gadis itu, aku memang belum pernah sekalipun menyapa dia lagi, dan hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Walaupun begitu, aku masih ingat bagaimana wajah dan senyumnya ketika aku menyapa dia pertama kali, yang sangat tergambar jelas di memoriku.
“oh tuhan semoga aku bisa menyapanya! Aminn…” itulah do’a yang kuselipkan selain do’a agar hari  ini dimudahkan ilmu yang masuk ke otakku.
Ketika aku membayangkan hal itu terasa sejuklah pikiranku damailah hatiku walaupun pertemuan itu begitu cepat. Aku selalu berharap dapat berbicara dengannya lagi. Untuk itulah setiap pagi aku selalu berharap dapat memberanikan diri untuk menyapanya lagi.
7 tahun lalu merupakan pengalaman terpahit dalam hidup, aku diajak pergi oleh seorang teman kesebuah tempat yang sama sekali belum pernah aku menginjak kaki disana. disana kau melihat rumput itu berwarna kuning, gunung bagaikan tempat sampah terbesar, laut layaknya air bah sisa para tahanan yang dipakai berulang. teman ku itu mengatakan bahwa inilah tempat terburuk bagi umat manusia. dan aku masih bingung dan tidak percaya akan hal itu. kemudian aku langsung menanyakan kepada salah satu penghuni tempat itu. suaranya lantang meneriakkan bahwa iniilah NERAKA. dengan bingung ku membacakan tasbih dan tahrim mendengar hal itu. Setelah itu aku sadar bahwa tiada nera



BERSAMBUNG...................!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar